top of page

Solusi Non-Konvensional Jokowi dalam Pertahankan Nilai Rupiah

Gambar penulis: RR

“ Impor untuk barang non-strategis harus dihentikan atau dikurangi; kata Jokowi pada pertemuan tersebut “

Ilustrasi

Nilai rupiah jatuh ke titik terendah dalam tiga tahun. Untuk mengatasi hal ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memutuskan untuk mengambil langkah-langkah non-konvensional untuk mempertahankannya, seperti misalnya, penggalakan penggunaan biodiesel sehingga membatasi impor bahan bakar jenis lain. Selain itu, Jokowi juga mempertimbangkan untuk mengurangi proyek infrastrukturnya.

Ilustrasi

oleh Shotaro Tani; (Nikkei Asian Review)

Koordinatberita.com- Presiden Indonesia Joko “Jokowi” Widodo mengerahkan serangkaian taktik defensif, beberapa di antaranya tidak konvensional, dalam mencegah kejatuhan mata uang Rupiah di pasar keuangan. Jokowi telah memerintahkan sebuah langkah untuk meningkatkan konsumsi bahan bakar biodiesel minyak kelapa sawit yang diproduksi secara lokal untuk mendorong keluar bahan bakar impor.

Jokowi juga dilaporkan telah mempertimbangkan mengurangi program khasnya berupa proyek-proyek infrastruktur untuk menekan impor bahan bangunan.

Rupiah Indonesia telah menjadi salah satu mata uang yang menunjukkan kinerja terburuk di Asia Tenggara pada tahun 2018, seiring dengan Federal Reserve AS berlanjut dengan serangkaian kenaikan suku bunga. Penurunan Rupiah dapat menyebabkan inflasi yang lebih tinggi, suatu hal yang tidak diinginkan Jokowi apabila ingin kembali dipilih untuk masa kepresidenan periode kedua pada pemilu tahun 2019.

“Negara Indonesia membutuhkan Dolar,” Presiden Jokowi menekankan kepada jajaran menteri kabinetnya pada pertemuan khusus di akhir bulan Juli 2018, yang disebut juga dengan “Strategi Kebijakan untuk Meningkatkan Cadangan Devisa.”

Pertemuan tersebut dilaporkan menjadi pertemuan keenam kalinya para menteri kabinet sejak awal bulan Juli 2018 untuk membahas situasi penurunan Rupiah.

“Impor harus dievaluasi. Impor untuk barang non-strategis harus dihentikan atau dikurangi,” kata Jokowi pada pertemuan tersebut.

Jokowi pada hari Kamis (9/8) mengumumkan secara resmi bahwa ia akan kembali mencalonkan diri dalam Pemilu 2019 dan telah memilih seorang ulama Islam, Ma’ruf Amin, sebagai pasangan calon wakil presiden untuk mendampinginya. Pesaing utamanya, Prabowo Subianto, juga telah menyatakan pencalonannya pada pemilu bulan April 2019 yang akan datang.

Satu rencana yang “ingin segera diterapkan” oleh Jokowi ialah memperluas program biodiesel B20.

Pemerintah Indonesia berencana memperluas program tersebut yang mengharuskan kendaraan bermesin diesel bersubsidi atau transportasi publik seperti kereta api untuk menggunakan biodiesel 20 persen yang dicampur dengan solar biasa. Kebijakan ini untuk meningkatkan konsumsi biodiesel berbasis minyak kelapa sawit yang diproduksi secara lokal.

Langkah ini akan menghasilkan pembatasan impor bahan bakar jenis lain. Menurut Sekretariat Kabinet, kebijakan itu “dapat menghemat devisa dari impor bahan bakar sebesar US$21 juta per hari.”

Dengan Indonesia yang merupakan negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia, kebijakan seperti itu memberikan bonus tambahan untuk mendukung lebih dari 17 juta karyawan di sektor ini, suatu langkah strategis untuk meningkatkan elektabilitas pada saat pemungutan suara.

“Pemerintah telah menyebutkan bahwa penggunaan biodiesel dapat menghemat hingga US$4 miliar dalam impor minyak, yaitu sekitar 0,4 persen dari produk domestik bruto.

Dalam margin, hal ini akan membantu Rupiah, dengan faktor lain yang dianggap sama,” ujar kata Nupur Gupta, seorang ekonom di Goldman Sachs yang berbasis di Singapura.

Indonesia telah mengalami kejatuhan Rupiah sebanyak 7 persen terhadap Dolar AS pada tahun 2018, karena investor telah mengambil dana dari pasar negara berkembang dan memindahkan mereka kembali ke AS di tengah meningkatnya suku bunga di perekonomian terbesar di dunia.

Bank Indonesia harus menaikkan suku bunga utamanya selama tiga kali sejak awal bulan Mei 2018 untuk mengatasi arus keluar dana, serta melakukan campur tangan secara teratur di pasar mata uang.

Tetapi setelah kenaikan 100 basis poin dan penurunan 9 persen dalam cadangan devisa selama paruh pertama tahun 2018, Rupiah masih diperdagangkan mendekati level terendah dalam tiga tahun terhadap Dolar AS, atau sekitar Rp 14.500,00.

Sementara itu, kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh bank sentral berpotensi merusak ekonomi, karena bank telah mulai membicarakan perlunya meningkatkan suku bunga pinjaman mereka untuk menyesuaikan kenaikan suku bunga bank sentral.

Karena menyadari keterbatasan langkah-langkah konvensional, Jokowi pun mengambil langkah kreatif. Indonesia mengalami defisit transaksi lancar yang terus-menerus. Bank sentral memperkirakan bahwa defisit tersebut akan meningkat sebanyak US$8 miliar pada tahun ini menjadi US$25 miliar, nilai yang terus membebani Rupiah.

Jokowi percaya bahwa dengan mendorong neraca perdagangan Indonesia ke arah surplus, ia dapat mengubah dasar perekonomian negara dan mendongkrak Rupiah.

Rencana lain yang disebut-sebut ialah peningkatan penggunaan barang modal lokal dalam proyek-proyek infrastruktur. Defisit transaksi berjalan Indonesia telah meningkat, yang sebagian disebabkan oleh peningkatan impor proyek infrastruktur terkait barang modal, sehingga pemerintah Indonesia ingin menggantinya dengan barang-barang manufaktur lokal.

“Teruslah mendukung pertumbuhan industri substitusi impor,” kata Jokowi kepada para menteri kabinet.

Bahkan terdapat laporan bahwa Jokowi mempertimbangkan untuk mengurangi proyek-proyek infrastruktur untuk mengekang impor barang-barang yang diproduksi di luar negeri. Meskipun belum ada konfirmasi mengenai perubahan semacam itu, daftar proyek infrastruktur yang baru-baru ini dirilis yang diprioritaskan oleh pemerintah meliputi 227 proyek, turun dari angka 248 pada tahun sebelumnya.

Namun, bagi Rohit Garg, ahli strategi Emerging Asia FI/FX di Bank of America Merrill Lynch di Singapura, langkah-langkah tersebut “bukan hal yang paling penting” bagi Indonesia.

“Rupiah saat ini menghadapi tekanan depresiasi terutama karena lingkungan eksternal yang lebih tinggi terhadap Dolar AS, Dolar AS yang kuat dan Yuan China yang lebih lemah,” katanya. “Sudah pasti terdapat upaya oleh para pembuat kebijakan Indonesia untuk tetap menutup defisit transaksi berjalan saat ini. Pada saat ini, evolusi faktor eksternal seperti itu jauh lebih penting.”(koordinatberita.com)

oleh Shotaro Tani; (Nikkei Asian Review)


15 tampilan
Single Post: Blog_Single_Post_Widget
Recent Posts
Kami Arsip
bottom of page